Berikan Aku Nilai Nol


Kebahagian identik dengan harta melimpah, senyuman, prestasi, dan nilai sempurna. Tak jarang banyak orang menghabiskan waktunya, dan banting tulang untuk mendapat sebuah kebahagian yang diimpikan.

Itupun yang aku rasakan kala itu, dimana aku berusaha belajar untuk mendapat nilai bagus bahkan sempurna agar mendapatkan kebahagiaan yang menjadi gambaran anak-anak sepantaranku. Namun takdir berkata lain, aku mendapat kebahagiaan dengan cara yang tak diduga, bahkan sampai saat ini aku merasakan kebahagiaan itu saat mengenangnya. Yakni, pintaku pada guruku untuk diberikan nilai nol saat ujian.
Sekitar enam tahun yang lalu, tepatnya di SMP Al-Irsyad Purwokerto, aku duduk di bangku kelas akhir. Hari-hari mulai disibukkan dengan soal-soal, untuk menghadapi Ujian Nasional (UN) dan Ujian Sekolah (US). Aku dan teman-teman biasanya pulang lebih akhir karena ada jam tambahan. Lelah terasa, namun kami hadapi bersama-sama.


Hari semakin dekat dengan waktu ujian. Rasa was-was dalam hati muncul. Yang mana, menjadi hari penentu belajarku selama tiga tahun. Sampai suatu ketika kami dikumpulkan untuk memanjatkan doa bersama. Ustazku memimpin dengan untaian doa yang menghanyutkan hati. Kami terbawa suasana hening dan sakral. Tak sedikit, teman-temanku ada yang meneteskan air mata, terutama anak perempuan, disusul saling berpelukan. Sedangkan anak laki-laki, tak ku dapati ada yang menangis, hanya raut muka yang fokus, merenungi kata-kata. Dan mayoritas mereka bermain dengan yang lain. Entah saling ledek dan bercanda. Hari itu berakhir dengan berharap esok hari menjadi hari yang bersahabat.


Jadwal ujian sudah menjadi titik fokus setiap harinya. Aku dan teman-teman di tempatkan pada ruang ujian yang berjarak dan memiliki dua pengawas. Aku duduk di bangku ke dua dari depan, baris paling kiri dekat dengan pintu kelas. Secara serempak kami mulai ujian dengan mengucapkan basmalah bersama-sama.
Tak ingat betul pelajaran apa kala itu, aku mendapati satu soal yang membingungkan. Jawabanya b atau c ya? tanyaku dalam hati. Dengan ragu-ragu aku mengarsir jawaban c. Spontan aku tinggalkan nomor itu beralih pada nomor berikutnya.


Tiba-tiba, temanku yang duduk tepat di depanku mengangkat tangan dan meminta izin keluar ruangan untuk ke kamar mandi. Mataku yang sedaritadi hanya melihat punggungnya, secara tidak sengaja melihat jawaban yang telah banyak terarsir. Spontan fokusku mengarah pada nomor yang tadi membuatku ragu. Dia jawabannya b! iya bener, b kayaknya yang bener! Grutuku meyakinkan jawaban yang tadi sempat membuatku ragu. Tak berpikir panjang, aku mengganti jawaban. Bel berbunyi menunjukan waktu mengerjakan telah selesai. Kertas soal dan jawaban ditinggal di meja masing-masing. Aku jalan meninggalkan ruangan bersama teman-teman.


Pada siang hari, kami kelas Sembilan secara mendadak di kumpulkan di aula lantai tiga untuk mengadakan evaluasi terkait pelaksanaan ujian. Ada hal aneh aku rasakan ketika ustazah Umi memulai pembicaraan. Nada yang tinggi dan tegas. Membuat kita semua diam tertunduk tidak ada suara. Hal yang jarang terjadi. Siapa yang selama ujian sampai hari ini mencontek! Maju sekarang juga! Tegas dan lugas. Kata-katanya membuatku merasa begitu was-was dan panik. Sesekali ku amati sekitar apakah ada respon atau tidak. Yang terlihat hanya tundukan kepala dari teman-temanku.


Aku merasa sangat bersalah. Raut muka mulai memerah. Ingin sekali aku maju, mengakui kesalahanku. Namun rasa malu, lebih dominan merasuki tubuhku. Aku menahan serasa tidak terjadi apa-apa. Sampai pertemuan saat itu berujung nihil. Tak ada seorangpun yang mengaku ada yang mencontek, padahal kata Ustazah Umi, banyak yang kepergok sedang mencontek temannya.


Hari semakin siang, setelah salat dhuhur, aku membulatkan tekat untuk meuju kantor ustazah, untuk mengakui kesalahan. Mencontek disaat ujian. Aku tak berani sendiri, dengan ditemani Alam. Aku menghadapnya. Semua kuutarakan dari awal, sampai tak kuasa terisak-isak dalam penyampaian terakhir. Penyesalan mendalam. Permintaan maafku padanya. Silahkan ustazah, berikan saya nilai nol tidak apa-apa, ini kesalahan saya, maaf tadi tidak mengaku saat dikumpulkan. Aku malu sama teman-teman ustazah.


Jawaban tak terduga. Ustazah salut denganmu. Selama ini tidak pernah ada yang mengaku mencontek, dan kamu adalah orang pertama. Soal nilai, sudah, tidak apa-apa. Kamu orang yang baik. Kata ustazah.


Entah perasaan apa yang hinggap padaku saat itu. Terlalu abstrak untuk diungkapkan dengan kata-kata. Pada intinya, aku merasakan kebahagiaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Rasa lega dan tenang seketika. Bahkan sampai saat ini aku masih merasakan kebahagiaan itu.


Dengan kejadian itu, semakin menguatkan. Bahwa kebahagiaan juga terletak pada kejujuran. Sepahit apapun itu, bila kita beranikan diri jujur dan mengakui kesalahan. Akan ada hadiah indah yang siap menanti disela-sela sakit yang membuncah. Alhamdulillah ala kulli haal.

Published by Ubay R

Seseorang yang mengembara mencari makna kebahagiaan

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started